Informasi

Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Visi BKN : Menjadi Pembina dan Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Profesional dan Bermartabat Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani dengan Peduli, Iklas dan Bertanggungjawab ... ;
Jumat, 27 April 2018 - 15:26:36 WIB

Dibutuhkan Kepekaan Untuk Kepemimpinan Lintas Budaya


Diposting oleh : Teamweb
Kategori: Kepegawaian - Dibaca: 554 kali

Dibutuhkan Kepekaan Untuk Kepemimpinan Lintas Budaya
Berlakunya era globalisasi pada dunia internasional saat ini telah membawa berbagai konsekuensi luas dalam setiap aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali, termasuk dalam organisasi. Saat ini para manajer dalam rangka mengelola organisasi perusahaannya memerlukan visi dan perspektif global jika mereka berkeinginan mencapai sukses. Batasan negara maupun wilayah tidak mampu untuk menghambat atau membatasi organisasi dari tekanan persaingan dari luar, sehingga kesuksesan organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan pimpinan dalam beradaptasi dengan lingkungan luar yang lebih luas dan juga sangat dinamis, penuh dengan berbagai peluang dan tantangan.
 
Berbagai persiapan telah dilakukan oleh banyak organisasi, mulai dari meningkatkan daya saing produk yang mereka hasilkan, memberikan berbagai pengetahuan tentang lingkungan internasional, mengamati strategi bersaing yang dilakukan oleh para pesaing, serta pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh strategi yang dilakukan dalam menilai prestasi atau kinerja bagi seorang calon pegawai yang akan dipromosikan yakni dengan menjalani penugasan luar negeri atau ke tempat lain yang berbeda karakteristik budaya. Strategi ini dilakukan salah satunya agar mereka mampu dan memiliki pengalaman yang lebih luas dengan nuansa yang sangat berbeda dari situasi dan kondisi lingkungan domestik pekerjaan yang selama ini ditekuni. Keberhasilan mereka dalam mengemban penugasan ini dapat menjadi unsur penilaian prestasi mereka untuk jabatan yang lebih tinggi.
 
Penugasan internasional saat ini menjadi semakin penting dan telah menjadi bagian dari upaya pengembangan karir para manajer. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut maka kompetensi kepemimpinan lintas budaya sangat diperlukan. Kepemimpinan lintas budaya diartikan sebagai kemampuan seorang pemimpin dalam memengaruhi dan memotivasi anggota kelompok budaya yang berbeda penilaian terhadap pencapaian hasil dengan merujuk pada berbagi pengetahuan dan makna sistem dari kelompok budaya yang berbeda. Berbagai tantangan akan muncul terutama yang berasal dari kekuatan sosial budaya yang diwakili oleh perbedaan budayanya. 
 
Walaupun tidak dijelaskan secara detail dalam berbagai teori kepemimpinan, budaya menjadi salah satu faktor penting dalam hal efektifitas kepemimpinan. Budaya memengaruhi gaya kepemimpinan melalui pengikut. Pemimpin tidak dapat memilih gaya kepemimpinan sesuka hati jika tidak mau gagal, mereka dikendalikan oleh kondisi budaya pengikut yang menuntut suatu kepemimpinan yang cocok dengan budayanya.
 
Sebagai contoh untuk negara-negara timur tengah yang budayanya dipengaruhi Islam lebih cenderung cocok menggunakan gaya otokratis. Berbeda dengan negara jepang yang lebih partisipatif karena dipengaruhi budaya jepang yang pekerja keras dan sangat mengandalkan kerjasama. Untuk mengatasi hal itu tentu sosok pemimpin harus mengetahui bagaimana budaya organisasi yang ada pada suatu daerah, sehingga tidak akan terjadi shock culture ketika berinteraksi atau ditugaskan di tempat yang berbeda.
 
Gudykunts dan Kim (2003) menyatakan bahwa negara-negara di Asia dan Amerika Selatan termasuk ke dalam budaya kolektif, dimana kebersamaan dan ikatan keluarga dan kelompok sangat penting. Sedangkan negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara, masyarakatnya termasuk ke dalam budaya individualistik.
 
Contoh lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Silviandari & Widyasari (2014) dimana hasilnya menggambarkan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh ekspatriat Korea Selatan dan ekspatriat Jepang berdasarkan teori kepemimpinan W.J Reddin. Ekspatriat Korea Selatan menunjukkan adanya perilaku briefing¸ kontrol, teguran, pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah. Sedangkan ekspatriat Jepang menunjukkan adanya kontrol, pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah, loyal dan memperhatikan karyawannya.
 
Kompetensi Lintas Budaya
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan lintas budaya diantaranya adalah kemampuan untuk belajar dari pengalaman, kemampuan interpersonal, dan nilai-nilai budaya. Model penyesuaian yang dilakukan yaitu model reaksi dan model integrasi. Kendala yang dialami seringkali terletak pada masalah stereotipe negatif terhadap karyawan lokal dan etnosentrisme yang dimiliki oleh pegawai pendatang. Stereotype merupakan penilaian terhadap seseorang atau suatu kelompok yang hanya didasarkan pada persepsi tanpa terkonfirmasi secara tepat akan kebenarannya. Sementara etnosentrisme merupakan penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standard budaya sendiri. Orang dengan etnosentrisme cenderung menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri khsusnya bila dikaitkan dengan Bahasa, perilaku, kebiasaan dan agama.
 
Maka untuk menjembatan kesenjangan antar budaya, dibutuhkan kemampuan dari para pemimpin dalam mengelola perbedaan budaya tersebut. Dibutuhkan kemampuan “cross-cultural competence” dan “cultural sensitivity” bagi para pegawai yang akan ditugaskan pada tempat baru yang memiliki perbedaan budaya dengan tempat sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bagi para pengelola kepegawaian supaya dapat memberikan penekaan secara lebih pada dua aspek kompetensi tersebut. Pada setiap kegiatan seleksi dan promosi, sudah selayaknya dua kompetensi tersebut menjadi aspek utama / penting yang harus terwadahi. Sehingga, nantinya dapat diperoleh pegawai yang berkualitas baik secara teknis maupun sosialnya. Melalui hal ini diharapkan para pegawai dapat memiliki daya adaptasi yang tinggi dan memiliki kemampuan kepemimpinan silang budaya yang handal. 
 
Ratiu dalam Weinshall (1993) menyebutkan beberapa kompetensi inti bagi kepemimpinan lintas budaya, antara lain:
a. Mampu beradaptasi 
b. Fleksibel, mudah mengubah segala sesuatunya jika hal tersebut memang dikehendaki oleh lingkungan setempat. 
c. Memiliki sifat keterbukaan yang tinggi (open minded)  
d. Memiliki banyak teman atau relasi dari berbagai tempat yang berbeda.
 
Pengetahuan tentang budaya orang lain dan bagaimana mereka memahami cara mereka bekerja dapat menjadi alternatif solusi bagi kepemimpinan lintas budaya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa asumsi yang dimiliki sebelumnya tidak selalu baik/tepat untuk suatu kondisi tertentu sehingga dapat mengurangi kondisi stereotype. Kemampuan dalam memahami budaya orang lain merupakan langkah pertama dalam dalam rangka menggunakan perbedaan budaya sebagai upaya memperoleh keuntungan strategis.
 
Sebaliknya, kekurangtepatan dalam melihat dan menangani perbedaan budaya dapat melahirkan beragam masalah, seperti: rendahnya kinerja pegawai, berpindahnya pegawai kompeten ke organisasi lain, serta rendahnya semangat kerja yang menyebabkan rendahnya produktivitas. Apabila perbedaan-perbedaan ini dapat dikelola secara tepat, hal tersebut dapat menjadi pencetus utama bagi organisasi dalam mewujudkan organisasi yang efektif, inovatif, dan unggul.
 
Penutup 
Kemampuan kepemimpinan lintas budaya (cross-cultural competence) bagi para manajer/pimpinan telah menjadi suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi pada era globalisasi ini. Sehubungan dengan hal tersebut komitmen organisasi untuk mempersiapkan para pemimpin yang akan diberikan jabatan lebih tinggi menjadi sangat penting. Bagaimana organisasi mampu menyiapkan secara tepat kualitas dari para calon pemimpinnya yang akan ditugaskan pada tempat baru yang memiliki perbedaan budaya. Keberhasilan dari para pemimpin tersebut dalam menjalankan tugasnya ditempat yang baru esensinya juga merupakan keberhasilan bagi organisasi dalam menjaga terlaksananya proses kerja secara optimal.
 
Secara spesifik, muara dari keberhasilan kemepimpinan lintas budaya sangat tergantung kepada daya adaptasi dari individual pemimpin terhadap budaya lokal/setempat yang tercermin dari keserasian dan keharmonisan interaksi antara pemimpin baru dengan pegawai lokal. Kemampuan saling memahami dan menginterpretasi makna menjadi penentu berhasil tidaknya dalam kepemimpinan lintas budaya.
 
Ditulis Oleh: Ridlowi
Pegawai Kanreg I BKN 


Berita Terkait