Informasi

Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Visi BKN : Menjadi Pembina dan Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Profesional dan Bermartabat Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani dengan Peduli, Iklas dan Bertanggungjawab ... ;
Selasa, 14 Mei 2018 - 22:10:24 WIB

Emosi dan Pengaruhnya Pada Perubahan Organisasi


Diposting oleh : Teamweb
Kategori: Kepegawaian - Dibaca: 158 kali

Emosi dan Pengaruhnya Pada Perubahan Organisasi
Pada setiap perubahan organisasi tidak akan dapat terlepas dari aspek perubahan individu, dan respon individu dalam menyikapi perubahan ini tidak semata-mata rasional tetapi juga melibatkan respon emosional. Emosi yang melekat dalam diri individu sebagai manusia, dalam kajian tentang proses perubahan dalam organisasi dianggap sebagai suatu yang nuissance. Sedangkan reaksi-reaksi emosional individu dalam menanggapi perubahan yang terjadi dalam organisasi dianggap sebagai suatu bentuk resistance
 
Pengelolaan emosi para anggota organisasi merupakan suatu hal yang harus diperhatikan apabila perubahan yang diinginkan organisasi diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Dalam beberapa kajian terlihat bahwa respon emosional individu memegang peranan penting dalam penerimaan atau penolakan terhadap perubahan yang dilakukan organisasi.
 
Berbagai pendekatan model teoritis dalam kajian perubahan organisasi menunjukkan bahwa respon emosional individu dalam menyikapi perubahan mengikuti suatu pola yang teratur dan dapat diantisipasi. Tahapan-tahapan perubahan emosi yang terpola dalam menyikapi perubahan organisasi ini dapat digunakan sebagai model untuk manajemen emosi dalam pengelolaan perubahan organisasi.
 
Emosi merupakan hal yang tak boleh diabaikan untuk sebuah proses perubahan organisasi yang berhasil. Emosi dapat berfungsi positif dan mendorong tercapainya perubahan organisasi kalau emosi dikelola dengan tepat. Hal ini disebabkan karena emosi memiliki fungsi adaptif bagi individu yang bersangkutan. Disamping itu, emosi juga merupakan komponen yang penting dalam motivasi sebab dapat menggerakkan individu dalam berperilaku tertentu.
 
Kata “emosi” berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Daniel Goleman merujuk emosi pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
 
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
 
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. Macam ragam bentuk dari emosi dapat terlihat seperti hasrat, benci, sedih/duka, heran, cinta, kegembiraan, ketakutan, dan kemarahan.
 
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
 
Resistensi Perubahan
Salah satu bentuk respon terhadap perubahan adalah adanya resistensi dari karyawan. Resistensi terhadap perubahan timbul karena individu shock ketika perubahan terjadi, terutama saat perubahan dirasa akan mengancam dirinya. Selain itu, perubahan akan menyebabkan konflik di dalam organisasi karena masing-masing individu berusaha untuk membuat dirinya aman sehingga timbul gesekan kepentingan. Rasa tidak aman dan konflik ini menyebabkan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan bagi individu. Dengan adanya pengalaman emosi yang tidak menyenangkan ini menyebabkan individu menanggapi perubahan secara negatif atau resisten. 
 
Orang sering terhambat dalam melakukan perubahan dikarenakan emosinya. Padahal kemampuan mengelola emosi ini (kecerdasan emosi) merupakan syarat penting bagi keberhasilan seseorang di berbagai aspek kehidupannya. Menurut Daniel Goleman (2008), kecerdasan emosi merupakan kesadaran diri, rasa percaya diri, penguasaan diri, komitmen, integritas dan kemampuan seseorang dalam mengkomunikasikan, mempengaruhi, melakukan inisiatif perubahan dan menerimanya. Kecerdasan emosi sangat mempengaruhi bagaimana sikap seseorang terhadap suatu perubahan. 
 
Apabila individu memiliki kecerdasan emosi yang tinggi maka individu mampu menyadari emosi apa yang dirasakan saat perubahan terjadi dan mengungkapkannya dengan cara yang benar. Hasilnya, Ia mampu mengubah persepsi sehingga terbuka dan beradaptasi terhadap perubahan, mampu berkomunikasi dan berempati dengan anggota organisasi yang lain sehingga konflik dapat tereduksi. Ia mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain sehingga perubahan dapat bejalan dengan sinergis, serta mampu untuk memotivasi dirinya untuk berperilaku sesuai dengan perubahan yang diinginkan, sehingga resistensi individu terhadap perubahan dapat menurun. 
 
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor emosi merupakan sebuah kondisi yang melatarbelakangi terjadinya sebuah perilaku tertentu dalam menghadapi sebuah kejadian. Jika ditarik kedalam ranah perubahan organisasi, maka emosi merupakan faktor kondisi yang menyebabkan sebuah perilaku/tindakan dari adanya perubahan yang dilakukan dalam organisasi apakah menerima, menolak, atau  membiarkan. 
 
Emosi dan Pelibatan Pegawai
Selain mengenai substansi emosi itu sendiri, salah satu aspek yang akan bersinggungan dengan faktor emosi dalam perubahan organisasi adalah dalam hal pelibatan pegawai (employee involvement). Employee involvement merupakan media yang dapat menjadi tolok ukur yang mempengaruhi emosi para pegawai dalam menghadapi perubahan organisasi. Menurut Cumming & Worley (2008) Employee involvement merupakan upaya pelibatan karyawan dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan organisasi yang dengannya akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja organisasi dan juga kesejahteraan karyawan. Terdapat empat elemen kunci media pelibatan karyawan, yakni:
 
1. Kekuatan (power): yaitu pemberian otoritas yang cukup bagi para pegawai dalam perumusan dan pegambilan kebijakan organisasi, dari yang keterlibatan paling rendah hingga tertinggi dimana para pegawai diberi kebebasan dalam melakukan manajemen diri mereka.
2. Informasi: informasi dapat diakses oleh para pegawai secara bebas dan terbuka, seperti rencana bisnis, strategi, hasil, rencana pengembangan organisasi.
3. Pengetahuan dan skill: para pegawai diberikan pelatihan dan pengembangan yang cukup dalam menghadapi perubahan.
4. Penghargaan (reward): baik secara internal berupa menumbuhkan perasaan dihargai dan tanggungjawab maupun secara eksternal berupa pemberian kompensasi gaji dan promosi.
 
Melalui keempat media pelibatan karyawan ini, dalam prakteknya tentu akan menghadapi tantangan apakah dapat berjalan secara lancar atau tidak yang salah satu faktor utamanya dipengaruhi oleh posisi psikologi emosi dari masing-masing karyawan. Sehingga, dalam melakukan manajemen perubahan khsusnya dalam pengelolaan sumber daya internal, dapat dengan tepat menyisir persoalan sesungguhnya yang dihadapi oleh para pegawai sebagai bagian integral yang tidak terpisahkan dalam proses perubahan dan pengembangan organsiasi. 
 
Bagaimana eksistensi dari kontribusi tiap-tiap pegawai dapat terakomodir, bagaimana informasi dapat tertransfer secara tepat dan menyeluruh, bagaimana mereka dapat didukung dalam menghadapi proses perubahan melalui pengembangan diri dan kecakapan, serta bagaimana mereka diberikan stimulan berupa penghargaan baik yang sifatnya internal maupun eksteral. Semua faktor ini esensinya menjadi penentu lancar tidaknya sebuah perubahan yang sedang diagendakan oleh organisasi melalui proses psikologis emosi sesuai dengan tahapan emosi yang dialami masing-masing pegawai. 
 
Sehingga, terdapat simbiosis mutualisme dua arah antara faktor internal pegawai berupa memanajemen emosi diri dengan faktor eksternal organisasi yang memberikan perhatian terhadap hal-hal yang berpengaruh terhadap emosi pegawai. Misalnya, melalui kebijakan yang pro-terhadap pegawai dalam hal pemberian power, sharing informasi, peningkatan skill dan pengetahuan, serta pemberian reward.
 
Suatu proses perubahan organisasi akan berjalan dengan baik jika melibatkan interaksi terus menerus antara proses emosi dan kognitif para anggota organisasi. Organisasi maupun kelompok-kelompok dalam organisasi harus dapat menerima realitas perlu adanya perubahan beserta segala macam emosi yang mungkin saja ditimbulkan oleh perubahan organisasi itu sendiri. Organisasi juga dituntut dapat menghargai individu yang terkena dampak perubahan dengan cara mendengarkan dan menerima perasaan, emosi yang dialaminya serta pandangan-pandangannya tentang perubahan organisasi yang berkaitan dengan dirinya.
 
Selain itu, organisasi maupun kelompok-kelompok dalam organisasi diharapkan dapat memberikan suatu alternatif pandangan untuk mengatasi pandangan bahwa organisasi ini bukanlah organisasi yang mementingkan kepentingannya saja, bahwa manajemen organisasi tidak dapat dipercaya dan bersifat eksploitatif, serta tidak adanya masa depan yang jelas dalam organisasi. Pandangan-pandangan negatif ini harus dapat diatasi dengan visi yang jelas mengenai perubahan itu sendiri.
 
 
Ditulis Oleh: Ridlowi, S.Sos, M.A 


Berita Terkait