Informasi

Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Visi BKN : Menjadi Pembina dan Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Profesional dan Bermartabat Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani dengan Peduli, Iklas dan Bertanggungjawab ... ;
Rabu, 23 September 2019 - 08:18:08 WIB

Apa Yang Kurang Dari Pejabat JPT dan Administrator Kita?


Diposting oleh : Teamweb
Kategori: Kepegawaian - Dibaca: 1.344 kali

Apa Yang Kurang Dari Pejabat JPT dan Administrator Kita?
Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Pusat Penilaian Kompetensi ASN (Puspenkom) sejak 2015 telah menyelenggarakan kegiatan penilaian potensi dan kompetensi khusus bagi Pejabat Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama dan Pejabat Administrator yang diberi tajuk talent pool. Tujuan dari talent pool dimaksudkan untuk membangun sistem informasi kepegawaian berbasis kompetensi yang komprehensif menuju era manajemen talenta.

Talent pool merupakan kegiatan dalam rangka mencari calon-calon pemimpin potensial. Hasil dari talent pool merupakan sekelompok kandidat baik dari internal maupun eksternal organisasi yang memenuhi persyaratan jabatan untuk mengisi jabatan pimpinan tinggi.

Beberapa kegunaan dari talent pool ini diantaranya sebagai proses pengumpulan data JPT dan Administrator potensial, sebagai bahan database untuk dasar seleksi lebih lanjut, serta untuk pengembangan kompetensi kepemimpinan. Bagi instansi, hasil dari talent pool dapat diperoleh database profil kompetensi dan potensi JPT dan Administrator yang dapat digunakan sebagai dasar dalam penerapan sistem kaderisasi sebagai langkah nyata menuju implementasi manajemen ASN berbasis sistem merit.

Hasil dari talent pool ini nantinya diharapkan dapat dijadikan dasar dalam proses pengisian jabatan yang lowong. Pelaksanaan penilaian ini juga telah berkoordinasi dengan KASN sehingga hasil penilaian ini idealnya dapat digunakan sebagai bagian dalam proses seleksi terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi meskipun implementasinya hingga saat ini masih belum sesuai yang diharapkan.

Talent pool dipersyaratkan bagi JPT yang belum pernah mengikuti kegiatan Assessment Center sebelumnya baik yang diselenggarakan oleh BKN maupun lembaga lain. Selain itu, calon peserta talent pool tahun ini juga terdapat batasan usia. Untuk peserta JPT maksimal usia 57 tahun, sementara untuk pejabat Administrator maksimal usia 56 tahun.

Penyelenggaraan talent pool dilaksanakan pada kantor regional BKN dengan peserta para JPT dan Administrator kabupaten/kota se-Indonesia. Pada event talent pool 2018 lalu, setidaknya diikuti oleh 2194 peserta dengan rincian 374 pejabat JPT dan 1820 pejabat Administrator yang berasal dari 173 instansi daerah. Sejauh ini, pelaksanaan talent pool memang baru menyasar pegawai daerah, belum melibatkan instansi pusat/vertikal.

Secara teknis, talent pool menggunakan dua belas (12) kompetensi untuk menyasar kriteria profil seorang pejabat. Kompetensi visioning, memprakarsai perubahan, analisis dan pengambilan keputusan, inovasi, integritas, perencaan dan pengorganisasian, mendorong pada hasil, fokus pada pemangku kepentingan, kepemimpinan, manajemen konflik, mengelola keberagaman, serta mengelola kebangsaan menjadi aspek yang dipotret dalam talent pool. Selain kompetensi manajerial, peserta talent pool juga akan dipotret dalam aspek potensinya melalui serangkaian uji psikotes, beragam simulasi, serta wawancara kompetensi.

Hasil dari talent pool merefleksikan matrik perpaduan antara aspek kompetensi dan potensi yang dimiliki seorang pejabat sehingga dapat diperoleh deskripsi sembilan kategori (nine box), mulai dari sangat potensial untuk dipromosikan, masih layak untuk dipromosikan namun dengan catatan pengembangan, maupun tingkatan kurang optimal sehingga dibutuhkan upaya pengembangan maupun upaya tindak lanjut.

Hasil JPT Pada talent Pool 2018
Dari pelaksanaan talent pool 2018, melalui hasil yang telah dirilis oleh Puspenkom BKN dapat dilihat sebaran kompetensi yang dimiliki oleh peserta yakni JPT Pratama dan Admnistrator peserta talent pool. Melalui hasil ini, setidaknya dapat dipetakan kompetensi mana saja yang masuk kategori menonjol dan kompetensi mana saja yang masuk kategori kurang. Hasil tersebut juga mencerminkan kompetensi secara umum dari Pejabat JPT dan Administrator yang ada di Indonesia sebagai gambaran rata-rata.

Bagaimana hasilnya? hasil talent pool 2018 menunjukkan pada jabatan JPT Pratama, terdapat empat kompetensi tertinggi yang dimiliki yakni kompetensi integritas, fokus pemangku kepentingan (stakeholder focus), mengelola perbedaan (managing diversity), dan wawasan kebangsaan. Sementara lima kompetensi terendah yaitu inovasi, perencaan dan pengorganisasian, driving for result, kepemimpinan, dan manajemen konflik.

Untuk melihat cakupan dari kompetensi tersebut, perlu kita pahami terlebih dahulu pengertian dari beberapa kompetensi yang memperoleh nilai rendah sehingga dapat dilihat disparitas yang masih dimiliki oleh para JPT.

a.    Inovasi
Inovasi menunjukkan pada proses mencetuskan solusi-solusi baru dan kreatif yang akan menghasilkan peningkatan kinerja, hasil-hasil yang lebih baik dan produktivitas yang lebih tinggi bagi unit kerjanya. Inovasi juga merujuk pada orang-orang yang yang kompeten dan mencetuskan gagasan dan solusi yang baru. Inovasi dapat dilihat pada aksi mempertanyakan cara kerja yang telah ada dan mencoba mengembangkan cara-cara baru yang lebih baik. secara kasat mata, inovasi merupakan kemampuan dalam menghadirkan produk/mekanisme baru yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan yang semakin efektif dan berkualitas.

b.    Perencanaan dan pengorganisasian
Kompetensi ini merujuk pada aksi yang secara efektif merencanakan dan mengorganisir pekerjaan sesuai kebutuhan organisasi dengan menetapkan tujuan dan mengantisipasi kebutuhan maupun prioritas. Orang yang kompeten pada aspek ini akan mampu menjalankan proses kerja secara efektif dan efisien. Seorang JPT yang memiliki kemampuan dalam perencanaan dan pengorganisasian akan dapat dengan mudah mengelola dan memantau pelaksanaan kegiatan serta memberikan saran konstruktif yang implementatif dan dapat dijalankan oleh pihak-pihak yang ada dibawahnya.

c.    Driving for result
Sebagai kompetensi yang mampu menggerakkan daya dorong untuk menghasilkan capaian-capaian yang lebih menantang, mendorong diri dan organisasi untuk menjadi unggul dan berprestasi tinggi. Mampu mendorong tim kerja untuk menggunakan kemampuan secara optimal serta mampu menetapkan target kerja yang lebih menantang bagi tim. Kompetensi ini merupakan kombinasi dari daya, karisma, dan kekuatan dalam menstimulan pihak-pihak yang ada dibawahnya untuk mencapai target yang lebih tinggi dengan argumentasi yang logis dan mencerahkan.

d.    Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan aksi dalam menggerakkan dan mengelola orang lain untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Orang yang memiliki kompetensi kepemimpinan, secara efektif mampu memengaruhi anggota tim untuk mencapai hasil kerja, memperkuat kerjasama dan mendorong proses yang baik dengan memanfaatkan talenta tim. Teori kepemimpinan klasik mengindikasikan proses kerja dengan melibatkan atau melalui orang lain secara berhasil guna.

e.    Manajemen konflik
Merupakan kemampuan dalam menangani konflik diantara orang-orang dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang sensitif secara efektif. Mampu menunjukkan sikap terbuka dan mampu menempatkan diri pada situasi atau lingkungan yang memiliki potensi keberagaman. Manajemen konflik dapat dilihat melalui rekam jejaknya dalam memerankan diri sebagai pihak mediator atau fasilitator yang menjalankan fungsi penting dalam menyelaraskan konflik diantara pihak-pihak yang berbeda pendapat/kepentingan.

Mengapa keempat kompetensi integritas, fokus pemangku kepentingan, mengelola perbedaan, dan wawasan kebangsaan menjadi yang tertinggi diantara kompetensi lainnya? Jawaban sederhana yang tampak dipermukaan adalah karena keempat kompetensi tersebut bersifat abstrak dan pro akan nilai. Artinya, keempat kompetensi tersebut merupakan aksi naluri yang kurang membutuhkan daya pikir maupun daya eksekusi sehingga cenderung mudah untuk dilakukan oleh siapapun terlebih para pejabat.

Aspek integritas dan pengelolaan keberagaman merupakan aspek yang sudah menjadi budaya ketimuran dalam melakukan aksi/kebijakan yang pro terhadap kebersamaan. Cenderung lebih mudah untuk mengafirmasi perilaku pro sosial dibanding dengan mengeksplorasi kemampuan dalam menghadirkan perubahan-perubahan baru yang didahului sebelumnya dengan proses analisis yang mendalam hingga mengeksekusinya kedalam sebuah kebijakan.

Sehingga, untuk diperoleh kompetensi integritas dengan nilai yang cukup memiliki peluang yang relatif lebih mudah. Hal ini terkait dengan budaya/kebiasaan umum yang dimiliki oleh seseorang yang terdidik dengan norma-norma serta adanya dukungan dari lingkungan yang masih memegang asumsi akan pelaksanaan tata nilai yang berlaku di masyarakat.

Selain hal tersebut, pada kompetensi integritas juga menyimpan makna akan daya kemampuan dalam mengubah/menskenario lingkungan untuk taat dan patuh terhadap aturan main yang disepakati bersama. Orang yang memiliki integritas tinggi dapat dilihat dari kemampuannya dalam menciptakan sistem yang patuh dan taat terhadap tata nilai maupun mekanisme kerja yang telah ada, berorientasi pada terciptanya sistem kerja yang efektif dan transparan. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki maka semakin besar pula peluang yang dapat dijalankan dalam menciptakan lingkungan kerja yang pro terhadap aksi-aksi sosial sesuai dengan tingkat kewenangan yang dimiliki.

Sementara itu, mengapa lima kompetensi (inovasi, perencaan dan pengorganisasian, driving for result, kepemimpinan, dan manajemen konflik) menjadi yang terendah diantara dua belas kompetensi lainnya?

Seperti rasionalisasi pada capaian kompetensi tertinggi diatas, kelima kompetensi terendah tersebut merupakan kompetensi yang membutuhkan daya kritis, daya imaginasi, serta daya eksekusi. Pada sebagian besar orang, mengombinasikan beragam daya ini bukanlah hal mudah karena dibutuhkan kemampuan tersendiri yang berbasis pada pengalaman, selain juga seni dalam mengeksekusi inovasi perubahan.

Hasil Pejabat Administrator Pada Talent Pool 2018
Pada jabatan Administrator, empat kompetensi tertinggi yakni integritas, stakeholder focus, dan managing diversity, sementara empat kompetensi terendah yaitu visioning, inovasi, perencanaan dan pengorganisasian, dan driving for result. Hal yang menarik dari kompetensi Administrator ini yaitu aspek visioning menjadi kompetensi terendah selain juga inovasi, perencanana dan pengorganisasian, dan driving for result seperti pada hasil JPT.

Visioning merupakan kemampuan dalam mengidentifikasi sasaran jangka panjang organisasi. Kemampuan dalam menetapkan posisi serta aksi-aksi organisasi yang dapat diperankan dimasa yang akan datang melalui proses analisa dan pengetahuan teknis sesuai dengan lini bisnis organisasi. Mengapa visioning menjadi yang terendah bagi Pejabat Administrator? Hal ini terkait dengan mekanisme struktur yang dijalankan baik oleh Administrator dalam memberikan dukungan kinerja kepada JPT selaku atasannya.

Dikarenakan secara struktur seorang Administrator berperan sebagai penjembatan komunikasi maupun kegiatan antara staf/bawahan dengan atasan yang lebih tinggi, maka Administrator cenderung terkuras energinya untuk memikirkan aspek teknis implementasi kegiatan dibandingkan dengan upayanya dalam merumuskan visi-visi strategis yang dapat dijalankan organisasi.

Sebagai motor penggerak implementasi kegiatan dalam pencapaian target kinerja organisasi, seorang Administrator seolah terkondisi untuk kurang berfokus pada upaya perumusan/memikirkan visi organisasi sehingga lebih terkonsentrasi dalam mengejar target-target teknis yang dibebankan pimpinan. Para Administrator masih kurang terwadani baik waktu maupun kemampuannya dalam mengeksplorasi tujuan strategis organisasi sehingga akibatnya hanya terlibat secara pasif dalam perumusan visi maupun tantangan baru yang dapat dijalankan organisasi.

Penutup
Hasil dari pelaksanaan Talent Pool tahun 2018 telah memperlihatkan pada kita sebaran kompetensi baik yang dimiliki oleh JPT maupun Administrator. Secara umum, pada jenjang JPT aspek inovasi, driving for result, dan kepemimpinan menjadi kompetensi yang patut menjadi perhatian bersama karena merupakan aspek dengan nilai yang rendah. Pada jenjang Administrator, selain ketiga kompetensi tersebut juga muncul kompetensi visioning.

Artinya, para JPT kita masih kurang familiar dengan aksi inovasi, kurang gagasan maupun terobosan baru, sementara Administrator kita masih kurang terlibat sepenuhnya pada upaya penetapan visi dan misi strategis organisasi. Administrator kita masih cenderung memerankan diri hanya sebagai pelaksana dari kebijakan pimpinan. Menerima kebijakan, mengeksekusinya, kemudian melaporkannya sesuai dengan target yang ditetapkan.

Inilah sedikit gambaran akan situasi yang semestinya dapat dijadikan sebagai bahan telahaan dalam merumuskan upaya pengembangan JPT maupun Administrator kedepan, sehingga nantinya dapat diperoleh para pemimpin dengan karakter yang kuat dan militan.
 
 
 
Ditulis Oleh: Ridlowi, S.Sos, MA
Bekerja di Kanreg I BKN Yogyakarta






Berita Terkait